Aris Ananta
SEPUTAR INDONESIA, 15 Juni 2010
Empat hari yang lalu, Karom — seorang ekonom yang bukan orang Indonesia– berbincang santai, tetapi agak serius, dengan saya. Dia merupakan pemerhati masalah ekonomi-politik global. Dia juga mengikuti perkembangan ekonomi-politik Indonesia, dan kagum sekali pada Indonesia. Dia mengatakan, ekonomi Indonesia telah tumbuh dengan baik dan sekarang masuk sebagai anggota G-20 yang sangat berpengaruh pada kebijakan ekonomi dunia. Menurut dia, Indonesia berhasil dalam proses demokratisasi sehingga Indonesia akan muncul menjadi negara Islam yang demokratis dan disegani di dunia. Ini semua, katanya, karena perekonomian Indonesia tumbuh dengan baik, ditambah dengan jumlah penduduk yang besar. Selain itu, politik di Indonesia juga sudah baik, stabil, dan tenang tenang saja.
Saya menyela dan mengatakan, bahwa dari luar atau dari permukaan, politik Indonesia terlihat tenang. Namun, sesungguhnya di bawah permukaan, sedang terjadi pertarungan antar elite politik dan bisnis yang amat panas. Pertarungan antar kepentingan pribadi dan kelompok mempersiapkan untuk Pemilu 2014. Ada juga pertarungan antara mereka yang reformis dan mereka yang menikmati kondisi pemerintahan seperti sekarang. Berbagai pihak berusaha saling membuka “dosa” lawan lawan mereka.
Karom tidak setuju dengan pengamatan saya. Katanya, ekonomi dan bisnis Indonesia sangat bagus. Bukan hanya dari indikator ekonomi makro, tetapi juga berdasar pengamatan dia dalam beberapa kali perjalanan ke Indonesia. Disamping juga berbincang dengan berbagai kelompok bisnis menengah hingga atas. Koram mendapat kesan bahwa ekonomi dan bisnis di Indonesia baik baik saja. Kalau politik panas, kata dia, bagaimana ekonomi dan bisnis dapat bagus?
Itu lah hal yang menarik di Indonesia. Saya katakan, bahwa telah terjadi decoupling atau pemisahan antara politik dan ekonomi. Pemodal asing pun masih bertahan datang ke Indonesia. Sementara orang Indonesia tidak peduli dengan gonjang-ganjing politik selama dilakukan dengan damai. Sebagian mereka memang mengikuti keramaian politik, tetapi itu sekedar mengikuti seperti cerita sinetron atau pertandingan sepak bola. Apa yang mereka tonton terpisah dari kenyataan hidup mereka sehari-hari.
Karom mengangguk angguk, makin kagum pada Indonesia. Dia makin yakin bahwa Indonesia merupakan kasus yang sangat menarik dalam studi ekonomi- politik. Dia berpendapat bahwa 20 tahun lagi akan banyak buku teks ekonomi pembangunan dan ekonomi- politik menyebut Indonesia sebagai salah satu contoh kasus yang berhasil. Karom kemudian bertanya pada pada saya, apakah Indonesia akan berhasil mencapai pertumbuhan ekonomi rata rata 7 % selama 2009-2014 dan mencapai pendapatan per kapita USD4.500 di tahun 2014?
Saya katakan, kalau memang bisa, itu bagus. Tetapi, yang lebih penting adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat. Ekonomi yang tumbuh tinggi tidak selalu identik dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat yang cepat.
Namun, Karom tidak setuju. Dia menunjukkan betapa China sekarang disegani dunia karena pertumbuhan ekonominya yang tinggi. Indonesia pun sekarang mulai dilihat dunia karena pertumbuhan ekonominya. Kalau ekonomi Indonesia bisa tumbuh lebih cepat lagi, dan politik dapat terus dipisahkan dari ekonomi, maka Indonesia akan benar benar disegani di dunia internasional.
Di situ lah perdebatannya, jawab saya. Mana yang lebih penting, disegani di dunia internasional atau peningkatan kesejahteraan masyarakat. Memang, kalau dua duanya dapat dicapai, itu akan bagus sekali. Dalam ilmu ekonomi kita selalu berhadapan dengan pilihan. Pilih ini atau itu untuk memaksimalkan suatu tujuan. “Nah, menurut anda, mana yang lebih penting, disegani masyarakat internasional karena pertumbuhan ekonomi yang amat cepat dan pendapatan per kapita yang tinggi atau peningkatan kesejahteraan masyarakat secara menyuluruh?”
Dia menjawab, ini perdebatan yang sudah kuno. Namun, perdebatan filosofi pembangunan ini kurang mendapatkan perhatian dalam silabus pengajaran di fakultas atau departemen ekonomi di banyak negara. Akibatnya, pengajaran didominasi dengan pertanyaan bagaimana agar pendapatan nasional dapat tetap terus bertambah dan tumbuh dengan lebih cepat.
Saya menambahkan. “Anda mengatakan, bahwa Indonesia dapat menjadi contoh keberhasilan dalam ekonomi pembangunan dan ekonomi politik 20 tahun lagi. Apalagi dengan peran Indonesia yang makin besar di dunia internasional. Nah, bagaimana saran kebijakan untuk pemerintah Indonesia? Kalau pemerintah Indonesia mau melakukan hal ini, Indonesia akan disebut sebagai negara pelopor reformasi pemikiran ekonomi. Indonesia tidak disegani karena pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita yang tinggi. Namun, karena peningkatan kesejahteraan yang menyeluruh dan keberanian pemerintah Indonesia untuk menerapkan kebijakan ekonomi yang berbeda dari buku teks ekonomi dari kelompok arus utama (main stream). Indonesia perlu melepaskan diri dari orientasi pertumbuhan ekonomi, termasuk kebijakan peningkatan ekspor , penggalakan investasi asing dan perdagangan bebas demi memacu pertumbuhan ekonomi.”
Perekonomian Indonesia sebaiknya berorientasi pada pembangunan yang ramah lingkungan dan berorientasi ke orang (people centred and environment friendly development). Oleh sebab itu, pertumbuhan ekonomi, peningkatan ekspor, masuknya investasi asing, dan perdagangan bebas, misalnya, harus mampu meningkatkan kesehatan, pendidikan, mobilitas penduduk, dan rasa aman penduduk, serta memperbaiki kualitas lingkungan hidup di Indonesia. Pembangunan ekonomi juga harus dijalankan dengan memperhatikan penerapan good governance. Tanpa itu, pelaksanaan pembangunan ekonomi dapat menimbulkan rasa ketidak-adilan di masyarakat. Rasa ketidak-adilan yang terpendam dan berakumulasi dapat menciptakan rasa marah di masyarakat dan ketidak-stabilan sosial dan politik.
Statistik kemiskinan, misalnya, perlu dikeluarkan tiap tiga bulan sekali dan bukan sekali dalam setahun seperti yang terjadi sekarang. Laporan perekonomian seyogyanya dimulai dengan laporan perkembangan kemiskinan setiap tiga bulan. Setiap tiga bulan sekali, pemerintah juga perlu melaporkan perkembangan status kesehatan dan kondisi keamanan. Kemudian, setiap setengah tahun sekali, pemerintah dapat melaporkan mutu lingkungan hidup di Indonesia dan sejauh mana good governance telah dilakukan di Indonesia.
Kemampuan penduduk Indonesia untuk berpindah (mobilitas penduduk) dapat dilaporkan sekali dalam setahun. Selama ini, statistik mobilitas penduduk hanya dikumpulkan sekali dalam lima tahun. Statistik pendidikan dapat dilaporkan sekali dalam setahun karena perubahannya tidak cepat. Selain itu, statistik pendidikan sudah dikumpulkan oleh BPS (Badan Pusat Statistik). Semua tambahan statistik ini tidak akan sulit untuk dikumpulkan dan disajikan oleh BPS, sejauh mendapat dukungan penuh dari pemerintah dan DPR.
Baca juga
* Integrasi Ekonomi Dalam Negeri dan Krisis Global
* Strategi Tampak Siring: Ekonomi Berkeadilan
* Perubahan Paradigma Pembangunan: Widjojo Nitisastro
* Ubah Paradigma Pembangunan Dunia
Filed under: Bahasa Indonesia, economy, poverty, good governance, Indonesia, keamanan, kebijakan pembangunan, kemiskinan, Kesehatan, lingkungan hidup, mobilitas penduduk, pendidikan, pengukuran pembangunan, statistik














I cant agree with you more, Pak. Tampaknya orang2 yang berpandangan seperti kita ini makin lama makin dilihat “aneh” oleh banyak orang, termasuk “kolega-kolega” ekonom. Hehehe..
Bang Martin, saya optimis. Berdasar pengamatan saya, kini makin banyak ekonom yang berpikiran “away from growth oriented model”. Mereka termasuk orang orang di World Bank, UN, ADB, dan banyak organisasi internasional lainnya. Tetapi, jumlahnya belum cukup besar untuk dapat membuat kebijakan yang berbeda total. Yang terlihat, hanyalah “perubahan malu malu”.
Misalnya, istilah quality growth, pro poor growth, dansebagainya. Mereka belum berani menghilangkan kata “growth” sama sekali.
Dugaan saya, tahun 2025 nanti ekonom yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi akan menjadi mahluk kuno.
Salam,
Aris