Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Industri Rokok: Antara Pertumbuhan dan Kesehatan Masyarakat

Aris Ananta

SEPUTAR  INDONESIA, 23 Maret 2010

Dulu,setiap saya kembali ke Indonesia, begitu memasuki terminal Bandara Soekarno-Hatta, saya segera dihadapkan dengan kepulan asap rokok.

Sembari antre di loket imigrasi, baik orang Indonesia maupun asing seperti berlomba untuk merokok. Namun,sekarang keadaannya sudah amat berbeda. Terminal di Bandara Soekarno-Hatta sudah relatif bebas dari asap rokok. Namun, usaha untuk membersihkan udara kita dari asap rokok perlu terus ditingkatkan. Bandara di seluruh Indonesia–bukan hanya yang berskala internasional–dapat memberikan teladan.

Dua tahun lalu saya makan di salah satu terminal dalam negeri di salah satu bandara di Indonesia. Di ruang itu jelas tertulis “Dilarang Merokok”. Namun, orang dapat dengan tenang merokok di ruang itu. Saya memberitahu seorang pelayan mengenai hal itu. Dan ini jawabnya, “Mereka kan makan,Pak. Jadi, ya mesti merokok.”

” Setelah selesai makan dan ikut menghirup asap rokok, saya mendatangi manajer rumah makan itu. Saya sampaikan keluhan tadi.Ternyata, dia pun justru ikut mengeluh karena tidak berdaya.Soalnya, kalau dia melarang,orang tidak datang ke rumah makannya.Salah satu daya tarik rumah makan di bandara adalah orang dapat bebas merokok. Menurutnya, rumah makan dapat menjadi semacam smoking room. Bahkan staf bandara yang ingin merokok juga mengunjungi rumah makannya. Tampaknya para perokok itu sudah nyandu (addicted). Selesai makan, harus merokok. Selain itu, saat ini, kita di Indonesia juga sudah kena “candu” merokok dalam arti lain. Banyak kegiatan di Indonesia disponsori oleh perusahaan rokok.

Bahkan kegiatan olahraga pun disponsori perusahaan rokok. Ironis sekali. Seperti halnya berhenti merokok, menghindar dari sponsor perusahaan rokok pun menjadi usaha yang tidak mudah. Oleh sebab itu, sangat menggembirakan bahwa kita mendapatkan teladan yang sangat bagus dalam usaha membersihkan udara Indonesia dari asap yang membahayakan kesehatan 230 juta penduduk Indonesia, apalagi mereka yang miskin.Menpora Andi Alifian Mallarangeng baru-baru ini memberikan pernyataan yang sangat berani bahwa dia tidak akan menerima sponsor dari perusahaan rokok untuk SEA Games tahun depan, yang akan diselenggarakan oleh Indonesia.

Dia juga mengatakan, di dunia internasional perusahaan rokok tidak lagi menjadi sponsor kegiatan olahraga. Dia juga percaya bahwa merokok berbahaya untuk kesehatan, baik bagi perokok itu sendiri mau pun orang-orang di sekitarnya. Menpora dapat dikatakan sangat berani karena dia tahu berhadapan dengan kekuatan bisnis yang besar sekali, yaitu mereka yang terlibat dalam bisnis rokok yang menggiurkan. Industri rokok sudah kehilangan tempat di banyak negara maju. Mereka tersingkir karena tidak diinginkan oleh masyarakat di negara maju. Maka mereka lari ke negara berkembang seperti Indonesia. Mereka percaya bahwa Indonesia pasti mau menerima mereka karena Indonesia masih miskin.

Industri rokok yakin Indonesia pasti lebih mementingkan pertumbuhan ekonomi,termasuk penerimaan pajak daripada kesehatan rakyatnya. Kekhawatiran dari segi kesehatan memang sering dikalahkan dengan kekhawatiran karena penerimaan pajak yang menurun, pertumbuhan ekonomi yang menurun, dan hilangnya lapangan pekerjaan. Betapa sering kita mendengar bahwa 2 juta petani tembakau akan kehilangan pekerjaan. Kemudian 1,5 juta petani cengkeh, 600.000 tenaga kerja di pabrik rokok,1 juta orang pedagang rokok, dan 1 juta tenaga kerja percetakan, periklanan, dan jasa transportasi juga akan kehilangan nafkah.

Mereka yang melindungi industri rokok tidak menghiraukan bahwa industri rokok ini merugikan 230 juta penduduk Indonesia. Baik yang menjadi konsumen langsung mau pun tidak langsung dari konsumsi rokok. Jumlah 230 juta ini jelas jauh lebih besar daripada jumlah mereka yang kehilangan pekerjaan. Persoalan yang lebih fundamental adalah paradigma pembangunan ekonomi kita. Selama kita masih mengikuti paham bahwa pertumbuhan ekonomi adalah tujuan pembangunan,maka udara Indonesia tetap akan dicemari oleh asap rokok.

Industri rokok tetap akan mendapatkan tempat untuk terus meningkatkan konsumsi rokok di Indonesia–pasar yang menggiurkan dengan jumlah penduduk 230 juta dan akan terus meningkat. Sebagai perusahaan komersial, tentu sangat masuk akal mereka akan terus meningkatkan penjualan rokok mereka. Ini juga berarti terus mengajari 230 juta penduduk Indonesia untuk melakukan kegiatan yang tidak sehat. Kalau pembangunan mengikuti people centred development, pertumbuhan ekonomi bukanlah tujuan pembangunan.Pertumbuhan ekonomi sekadar salah satu alat pembangunan.

Di pihak lain, dalam people centred development,rakyat yang sehat merupakan salah satu tujuan utama pembangunan. Rakyat yang sehat jauh lebih penting daripada pertumbuhan ekonomi. Karena kebiasaan merokok adalah kebiasaan yang addicted , maka usaha berhenti dari merokok biasanya juga butuh waktu, dan perlu dilakukan secara bertahap. Usaha untuk mengurangi ketergantungan pada perusahaan rokok pun dapat dilakukan secara bertahap, memberi waktu baik bagi industri rokok dan berbagai kegiatan yang tergantung pada perusahaan rokok.

Berikut beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk meningkatkan kesehatan penduduk Indonesia melalui bersihnya udara kita dari asap rokok: Pertama, kampanye besarbesaran dan terus-menerus mengenai pentingnya udara yang bebas dari asap rokok. Ini perlu menjadi salah satu program pemerintah pusat dan daerah. Kita pernah melakukan program Keluarga Berencana secara amat intensif,dan telah berhasil mengubah norma keluarga besar menjadi norma keluarga kecil dan bahagia.Mungkin,usaha yang intensif seperti ini dapat kita lakukan untuk membersihkan udara Indonesia dari asap rokok, demi 230 juta penduduk Indonesia yang jumlahnya terus meningkat.

Kedua, pajak rokok harus terus menerus dinaikkan. Namun, pajak rokok ini jangan menjadi target penerimaan pajak pemerintah. Anggaran pemerintah jangan memasukkan penerimaan dari pajak perusahaan rokok.Ini untuk menghindari ketergantungan pemerintah pada perusahaan rokok. Penerimaan dari pajak rokok dapat digunakan untuk program membersihkan udara Indonesia dari asap rokok.Perusahaan rokok juga diharuskan memberikan sumbangan uang untuk program ini yang nilainya makin besar dengan makin banyaknya rokok yang mereka jual.

Ketiga,pemerintah dapat memberikan berbagai kemudahan pada pengusaha rokok yang berusaha mengganti industri mereka. Sesungguhnya, para pengusaha rokok juga sudah sadar bahwa cepat atau lambat masyarakat Indonesia tidak akan mau meracuni dirinya sendiri.

Semoga teladan yang diberikan Menpora diikuti oleh para pembuat kebijakan lain,baik pada tingkat nasional mau pun lokal, demi kepentingan seluruh penduduk Indonesia yang berjumlah 230 juta dan akan terus meningkat.(*)

About these ads

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, , , , , ,

6 Responses

  1. asdfasd says:

    Di Australia, pada tahun 2006 perusahaan rokok dilarang untuk memasang iklan di seluruh Australia. Pajak rokok juga dinaikan. Dan pada tahun 2008, merokok dilarang di semua tempat umum di Australia (di stasiun kereta, bis, dll).

  2. suwito says:

    BEBERAPA AKIBAT TRAGIS DARI MEROKOK:
    – 5,4 juta kematian yang berhubungan dengan
    merokok per tahun di seluruh dunia
    – Sehari 658 juta batang rokok dengan uang
    senilai Rp 330 miliar “dibakar” oleh perokok di
    Indonesia
    – Jumlah para perokok di dunia saat ini mencapai 1,3 miliar orang
    – Indonesia menduduki posisi ketiga setelah China dan India untuk urusan konsumsi rokok
    – Di Indonesia diperkirakan dalam 10 tahun
    direkrut 10 juta perokok baru
    – 63 persen pria dewasa dari 20 persen penduduk termiskin di Indonesia adalah perokok
    – Sekitar 65,6 juta perempuan dan 43 juta anak-anak di Indonesia terpapar asap rokok
    – Setahun Rp 130 triliun dibakar untuk konsumsi
    tembakau di Indonesia. Penerimaan cukai
    tembakau tiap tahun baru Rp 16,5 triliun
    – Biaya rawat inap akibat merokok di Indonesia:
    Rp 2,9 triliun per tahun-
    – Setiap tahun sekitar 428.000 kematian di Indonesia diakibatkan kebiasaan merokok
    – Kematian akibat rokok setara dengan 22,5 persen total kematian di Indonesia
    – PENYAKIT JANTUNG: Trombosis Koroner, Trombosis Selebri, Kegagalan Ginjal
    – KANKER: Kanker Paru-paru, Kanker Kerongkongan,
    Kanker Ginjal, Kanker Kandung Kemih
    – PENYAKIT PARU-PARU KRONIS: Emfisema, Bronkitis
    – STROKE
    – BAHAYA TAMBAHAN BAGI PEROKOK PASIF:
    Kematian bayi mendadak, kelahiran prematur,
    sumbing bibir atau langit-langit, asma,
    bronkitis, infeksi telinga pada anak-anak.
    – IMPOTEN
    – PLUS LAINNYA…

  3. elliani says:

    Rokok sangat mencemarkan Lingkungan dan Menyebabkan Pemanasan Global

    Hutan-hutan digunduli untuk menghasilkan lahan tembakau, padahal kita tahu bahwa hutan adalah paru-paru dunia yang bertugas menyerap karbon dioksida dari atmosfer. Hanya di Afrika Selatan saja diperkirakan 200.000 hektar hutan per tahun dibabat untuk keperluan pertanian tembakau. Setelah peternakan, pertanian tembakau menempati 12% penggundulan hutan di Afrika Selatan

    Terdapat 1,3 milyar perokok di dunia. Jika kita anggap berat rata-rata rokok adalah 0,83 gram dan tiap perokok rata-rata menghabiskan 18 batang rokok tiap hari maka artinya terdapat 19.442.000 kilo rokok yang dibakar tiap hari di dunia.

    Sebelumnya, yaitu sebelum manusia menghabiskan sebegitu banyak rokok, 7,8 juta pohon dibakar untuk mengeringkan daun-daun tembakau. Begitu banyak transportasi yang diperlukan untuk mengirim tembakau dari satu tempat ke tempat lain dan tak bisa kita bayangkan betapa besar emisi karbon dioksida yang dikeluarkannya. Inipun belum cukup, pabrik rokok memerlukan 6,4 km kertas rol untuk membukus tembakau dan mengepak rokoknya. Penggunaan kertas yang begitu banyak itu tentu juga mendorong terjadinya penggundulan hutan yang lebih besar
    Selain itu, juga diperlukan pupuk, pestisida, insektisida dalam jumlah besar untuk menanam tembakau, sehingga akhirnya meracuni aliran sungai dan sawah.

    Secara garis besar, jika kita tidak merokok maka sekurang-kurangnya kita telah menghentikam penebangan 22 pohon dewasa (sudah lebih dari 10 tahun) tiap tahunnya. (catatan : hanya pohon dewasa atau yang berusia rata-rata di atas 10 tahun yang efektif menyerap karbon dioksida dari atmosfer).

    Kalau kita juga hitung betapa besar penyakit akibat merokok, betapa besar biaya yang dihamburkan untuk iklan-iklan rokok, betapa tinggi akibatnya pada perubahan iklim dst, dst, dst,
    mengapa kita tidak segera melakukan pelarangan rokok di dunia?

  4. doni says:

    pembatasan rokok sudah berlangsung pak, terutama di DKI. payung hukum baru sekedar Perda, tapi sudah ada pelarangan merokok di tempat tertentu. sayangnya belum efektif. ini perlu dukungan banyak pihak. dalam hal iklan juga sudah tegas pak, yaitu tidak menampilkan orang merokok, dan jam tayangnya malam. sayangnya, beberapa film dan sinetron malah menayangkan tokoh utama yang sedang menyulut rokok.

    kalo dari saya, kembali ke pemahaman masyarakat ttg rokok. terutama di anak sekolah pak.

    salam

  5. Nur Hadi says:

    Jumlah 2 juta petani tembakau itu data yang yang menyesatkan. Sumber resmi dari Departemen Pertanian jumlah petani tembakau hanya sekitar 600 ribu tahun 2007. Selama tahun 1996-2007 jumlah petani tembakau tidak pernah melebih jumlah 900 ribu orang.
    Cukai sebebanarnya tidak dimaksudkan sebagai sumber penerimaan negara. Dalam UU Cukai No. 39 tahun 2007 disebutkan bahwa cukai ditujukan untuk mengendalikan konsumsi dan mengawasi peredaran. Tidak disebutkan sebagai sumber penerimaan negara. Tapi kenyataan pemerintah justru memasang target cukai. Seharusnya untuk mengendalikan konsumsi rokok kenaikan cukai harus dinaikkan cukup tinggi sehingga tidak terjangkau oleh anak-anak. Di UU disebutkan maksimal 57% dari harga jual eceran, tapi kenyataan saat ini baru 44%.

  6. Ari says:

    SEPAKAT !!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 77 other followers

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 77 other followers

%d bloggers like this: