Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Mletiko

“mletiko” comes from the verb “mletik”, a Javanese word that means something close to “sparkle”. Mletik, however, is a very brief spark just like when we ignite a match. If it is not caught immediately, it will die.

Mletiko then means to mletik – to spark ideas. I hope this blog can mletik everybody who reads it. Yet, readers must be cautioned. To mletik will not necessarily make us happy. When we mletik, we catch fire and with this light we may see the surrounding a little better. However, a better understanding of our surrounding may make us frustrated and angry. It really depends on how we perceive pe-mletik-an.

A good English synonym for pemletikan is enlightenment. I would say, however, that enlightenment is deeper than pemletikan. Enlightenment is more spiritual, but here, in this blog, it is simply an intellectual process.

I love economic analyses, tools to choose whenever we have scarcity. The issues are not necessarily related to “money”. I may cover “cultural” and “political” issues. I am also a demographer, working with statistics on population dynamics as well as its wide social, economic, and political determinants and implications. Southeast Asia, particularly Indonesia, is my main research interest.

Selamat Mletik, Happy Mletik.

Aris Ananta (arisananta@gmail.com)

Filed under: Uncategorized,

Kurangi Konsumsi Beras untuk Mengekspor Beras?

29 Februari 2012

Pengunjung Mletiko yang budiman,

 

Pemerintah mencanangkan target pencapaian surplus 10 juta ton beras di tahun 2014. Salah satu kebijakan untuk mencapai target ini adalah dengan diversifikasi konsumsi pangan. Khususnya, orang Indonesia harus  dapat mengurangi konsumsi beras.

 

Pagi ini saya mendengar pemerintah berpendapat bahwa pengurangan  konsumsi beras akan menurunkan harga beras. Pemerintah kemudian berargumentasi bahwa akan terjadi surplus beras dengan harga murah. Kemudian, beras dapat diekspor.

 

Saya bingung,  ketahanan pangan dalam hal beras bertujuan untuk ekspor beras?

 

Mungkin ada sumbangan pemikiran dari pengunjung Mletiko.

 

Salam,

 

Aris

Filed under: Uncategorized

FOOD SECURITY: Suatu Cara Pandang

Pengujung Mletiko yang budiman,

 

Presiden telah menginstruksikan bahwa Indonesia harus dapat menghasilkan surplus 10 juta ton beras di tahun 2014. Terlampir power point (yang telah sedikit saya revisi) berjudul “Food Security: Suatu Cara Pandang” yang saya presentasikan sebagai salah satu keynote di workshop berjudul “Workshop Systems Modelling untuk Kebijakan Prioritas Nasional: Menuju Surplus 10 juta ton beras di 2014″. Jakarta: UKP4, 25 Februari 2012.

Karena terlalu besar, file saya bagi dua menjadi Food Security Suatu Cara Pandang – 1 dan Food Security Suatu Cara Pandang – 2

 

Semoga berguna.

 

Salam,

 

Aris

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, poverty, statistics, , , , , , , , ,

KESIAPAN HADAPI BENCANA ALAM

Aris  Ananta

Seputar Indonesia, 15 Februari  2012

 

Akhir-akhir ini puting beliung dan angin kencang telah melanda banyak
daerah di Indonesia, terutama di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
Hujan lebat dan banjir pun makin sering terjadi.

Pohon tumbang menyebabkan orang meninggal atau terluka.Rumah roboh
menyebabkan kehilangan harta dan luka, bahkan dapat menyebabkan
kehilangan jiwa. Listrik bahkan padam dan telah mengganggu berbagai
kegiatan produktif masyarakat. Lalu lintas juga makin parah. Kalau
diukur dengan pendapatan nasional,dampak ekonomi puting beliung,angin
kencang, dan hujan serta banjir yang kini makin sering terjadi memang
tidak sebesar tsunami di Aceh dan gempa bumi di Yogyakarta. Read the rest of this entry »

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, , , , , , ,

ORANG INDONESIA MAKIN KAYA?

Aris  Ananta

Indonesia Finance Today, 16 Februari 2012

Memang, ada orang Indonesia yang lebih kaya, tetapi juga ada yang lebih miskin. Masalah penyebaran kekayaan menjadi penting untuk melihat siapa yang kaya dan tambah kaya, siapa yang miskin dan tambah miskin, dan juga siapa yang pendapatannya tidak berubah.

Selain itu, bagaimana mengukur “kaya”? Kita dapat berdebat mengenai begitu banyaknya pengukuran kekayaan. Namun, di tulisan ini, kita batasi saja pada ukuran yang biasa dipakai Pemerintah Indonesia, yaitu kekayaan yang diukur dengan uang. Di tulisan ini, kita juga lupakan masalah ketimpangan dalam kekayaan penduduk Indonesia.

Maka, pertanyaannya, kalau pun kita hanya memfokuskan pada uang sebagai pengukuran kekayaan dan mengabaikan masalah ketimpangan pendapatan, benarkah penduduk Indonesia tambah kaya? Dari statistik yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), jawabnya “ya”, rata-rata pendapatan penduduk Indonesia telah meningkat dari US$ 3.010,1 pada 2010 menjadi US$ 3.542,9 pada 2011. Kenaikan sebesar 17,70%! Bahkan, kadang-kadang angka ini telah dibulatkan menjadi 18,0%. Read the rest of this entry »

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, statistics, Uncategorized, , , , , , ,

UN’s Revolution on Measuring Development

2 February 2012

Dear friends,

Good news. UN has started a great and important step to revise the measurement of development.  They will conduct a high-level forum on “Measuring the Unmeasurable: Challenge the Limits of Official Statistics” on 27 February 2012.

The following is a sample of the news, interviewing Porf. Paul Cheong, the UN’s statistician who leads the revolution in measuring development.

 “In order to remain relevant in a rapidly changing world, the statistical community has to continuously examine and push its own boundaries. Phenomena, which are not easily measurable today, may become important tomorrow, so we have to be prepared. In the past years it has become customary to explore ‘cutting edge’ issues in the format of a ‘high level forum’, which allows brainstorming and free-flowing exchange. In these discussions, we have to balance the desire to explore new ideas which may require new measurement tools and the need to preserve the credibility and reputation of official statistics.

This year’s event will focus on issues such as the measurement of happiness, well-being and ecosystem services and other difficult concepts. These are complicated topics with no clear measurement yardsticks. How to take the complex interaction between the environment and the economy into account and how to capture the level of well being in a country, which may include a high degree of subjectivity, will be discussed among the chief statisticians of the world.”

Related articles:

Your better life index
The Statistical Revolution is Finally Here

Filed under: economy, English, statistics, , , , , , ,

Mengurangi Impor Frozen Meat

Aris Ananta

4 Januari 2012

 Hari ini saya  membaca di the Jakarta Post  bahwa pemerintah akan mengurangi impor frozen meat  sebanyak 34.000 ton di tahun 2012. Kalau mungkin, pengurangannya lebih banyak lagi.  Bahkan, menurut berita ini, pemerintah akan tidak mengimpor frozen meat lagi, kalau persediaan lokal telah memenuhi.

 

Kebijakan ini sesungguhnya kebijakan yang menekankan pada sisi  supply. Kita pun dapat mengatasi kekuarangan supply, dengan menaikkan harga frozen meat. Dengan harga yang lebih tinggi, minat masyarakat pun akan berkurang, kebutuhan impor frozen meat akan berkurang.  Kalau harga frozen meat dibiarkan tinggi, sementara itu kita mendorong produksi buah dan sayur segar dari dalam negeri, maka masyarakat akan terdorong untuk mengurangi konsumsi daging dan menambah konsumsi buah dan sayur segar.

 

Oleh sebab itu, salah satu cara mengurangi impor frozen meat adalah mendorong konsumsi dan produksi buah dan sayur lokal. Kita  menjadi lebih sehat, mengurangi pembunuhan terhadap binatang, dan memperbaiki neraca perdagangan Indonesia.  (*)

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, Uncategorized, , , , , , , ,

Global Crises and Mega Demographic Trends in Indonesia

Pengunjung Mletiko yang budiman,

Terlampir power point yang kami sajikan dalam diskusi di Jusuf Kalla School,  Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada tanggal 27 Desember 2011; Universitas Achmad Dahlan, Yogyakarta, 28 Desember 2011; dan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 28 Desember 2011.

Global Crises and Mega Demographic Trends in Indonesia

Semoga berguna.

Salam,

Aris Ananta dan Evi Nurvidya Arifin

Filed under: Bahasa Indonesia, Demography, economy, , , , , , , , , , , ,



This site contains the writings of Aris Ananta & Evi Nurvidya Arifin.

Aris Ananta is an economist demographer with a multi-disiplinary perspective. He first studied economics from University of Indonesia in 1973-1977. He received his Master in Socio-economic Statistics from George Washington University in 1978 and PhD in Population Economics from Duke University in 1983.

More about Aris Ananta...

Evi Nurvidya Arifin is a social statistician, majoring in demography, with an inter-disciplinary approach. She has been applying her statistical expertise beyond demography since she earned her Ph.D in Social Statistics from the University of Southampton, United Kingdom, in 2001. She obtained her Master in Population and Manpower Studies from University of Indonesia in 1995. She received her undergraduate degree in Public Nutrition from Bogor Institute of Agriculture in 1987.

Our research interest is the intersection of:



Categories

Archives

Visitors

  • 38,357

Our Publications

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 30 other followers

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 30 other followers