Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Mletiko

“mletiko” comes from the verb “mletik”, a Javanese word that means something close to “sparkle”. Mletik, however, is a very brief spark just like when we ignite a match. If it is not caught immediately, it will die.

Mletiko then means to mletik – to spark ideas. I hope this blog can mletik everybody who reads it. Yet, readers must be cautioned. To mletik will not necessarily make us happy. When we mletik, we catch fire and with this light we may see the surrounding a little better. However, a better understanding of our surrounding may make us frustrated and angry. It really depends on how we perceive pe-mletik-an.

A good English synonym for pemletikan is enlightenment. I would say, however, that enlightenment is deeper than pemletikan. Enlightenment is more spiritual, but here, in this blog, it is simply an intellectual process.

I love economic analyses, tools to choose whenever we have scarcity. The issues are not necessarily related to “money”. I may cover “cultural” and “political” issues. I am also a demographer, working with statistics on population dynamics as well as its wide social, economic, and political determinants and implications. Southeast Asia, particularly Indonesia, is my main research interest.

Selamat Mletik, Happy Mletik.

Aris Ananta (arisananta@gmail.com)

Filed under: Uncategorized ,

Mengurangi Impor Frozen Meat

Aris Ananta

4 Januari 2012

 Hari ini saya  membaca di the Jakarta Post  bahwa pemerintah akan mengurangi impor frozen meat  sebanyak 34.000 ton di tahun 2012. Kalau mungkin, pengurangannya lebih banyak lagi.  Bahkan, menurut berita ini, pemerintah akan tidak mengimpor frozen meat lagi, kalau persediaan lokal telah memenuhi.

 

Kebijakan ini sesungguhnya kebijakan yang menekankan pada sisi  supply. Kita pun dapat mengatasi kekuarangan supply, dengan menaikkan harga frozen meat. Dengan harga yang lebih tinggi, minat masyarakat pun akan berkurang, kebutuhan impor frozen meat akan berkurang.  Kalau harga frozen meat dibiarkan tinggi, sementara itu kita mendorong produksi buah dan sayur segar dari dalam negeri, maka masyarakat akan terdorong untuk mengurangi konsumsi daging dan menambah konsumsi buah dan sayur segar.

 

Oleh sebab itu, salah satu cara mengurangi impor frozen meat adalah mendorong konsumsi dan produksi buah dan sayur lokal. Kita  menjadi lebih sehat, mengurangi pembunuhan terhadap binatang, dan memperbaiki neraca perdagangan Indonesia.  (*)

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, Uncategorized , , , , , , , ,

Global Crises and Mega Demographic Trends in Indonesia

Pengunjung Mletiko yang budiman,

Terlampir power point yang kami sajikan dalam diskusi di Jusuf Kalla School,  Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada tanggal 27 Desember 2011; Universitas Achmad Dahlan, Yogyakarta, 28 Desember 2011; dan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 28 Desember 2011.

Global Crises and Mega Demographic Trends in Indonesia

Semoga berguna.

Salam,

Aris Ananta dan Evi Nurvidya Arifin

Filed under: Bahasa Indonesia, Demography, economy , , , , , , , , , , , ,

Perusakan Hutan dan Pertumbuhan Ekonomi

Aris Ananta

23 Desember 2011

Di Jakarta Post tanggal 23 Desember tertulis

“President Susilo Bambang Yudhoyono has warned international green
groups not to meddle in the country’s domestic affairs, saying that
their campaigns against forest destruction could hamper his
government’s efforts to lift people out of poverty.”

Kampanye melawan perusakan hutan akan merugikan usaha mengurangi kemiskinan? Benarkah Presiden RI percaya hal itu? Kemiskinan siapa? Kemiskinan pembabat hutan?

Presiden juga mengatakan “…..it was impossible for the government to meet the
demands by international NGOs to stop all palm oil companies from
operating in Indonesia, as it would destroy both the economy and the
livelihoods of many people”

Kalau kita memakai paradigma pertumbuhan ekonomi, apa yang dikatakan oleh Presiden memang tepat sekali.  Mungkin Presiden belum merasakan dampak langsung dari kerusakan hutan, dan kerugian yang diakibatkan dari perkebunan kelapa sawit.

Revolusi  paradigma pembangunan memang harus segera dilakukan, kalau generasi ini tidak mau dicatat sebagai generasi yang ikut memusnahkan lingkungan hidup semata demi pertumbuhan ekonomi jangka pendek.

Mari kita renungkan kembali paradigma pembangunan kita. (*)

Filed under: Bahasa Indonesia, economy , , , , , , ,

Poverty and Global Recession in Southeast Asia

Just  Published

Edited by  Aris   Ananta and Richard Barichello

About the Book

Financial crises after financial crises have occurred, with widening impact and deepening severity. This book started  with an  objective to understand the impact of high inflation on poverty in Southeast Asia. However, global inflation moved quickly into recession in 2008. Southeast Asia was not an exception.

This book then refocused the title to Poverty and Global Recession in Southeast Asia. It is a modest attempt to contribute a better understanding of poverty and food security in Southeast Asia during the 20089-09 global recession, considering both recent development and the previous major crisis of 19979-98. The book may also help to anticipate some possible impacts of future global recession on food and poverty, not only in Southeast Asia, but also in many other countries in the world.

The book was published by Institute of  Southeast Asian Studies, Singapore, 2012. (*)


Filed under: economy, English, poverty , , , , , , , , , , , , , , ,

PARADIGMA-BARU PEMBANGUNAN EKONOMI*

Aris   Ananta

Depok, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 13 Desember 2011

Selama ini setiap laporan perekomian selalu dimulai dengan statistik  yang berkaitan dengan pendapatan nasional (GDP).  Contohnya, berapa persen pertumbuhan ekonomi, berapa pendapatan per kapita? Kemudian, bagaimana meningkatkan ekspor dan investasi asing agar pertumbuhan ekonomi meningkat dengan cepat?

Selain itu, sering muncul perdebatan apakah perbaikan lingkungan hidup mengganggu pertumbuhan ekonomi, apakah pelaksanaan good governance, termasuk pelaksanaan demokrasi, mengganggu pertumbuhan ekonomi.  Apakah usaha meningkatkan status kesehatan masyarakat bertentangan dengan usaha mempercepat pertumbuham ekonomi?

Dalam paradigma baru, yang saya tawarkan, kita membalik cara berpikir ini.  Pendapatan nasional, pertumbuhan ekonomi, dan pendapatan perkapita bukan tujuan pembangunan ekonomi. Pendapatan nasional, pertumbuhan ekonomi, dan pendapatan per kapita sekedar salah satu  alat untuk mencapai tujuan pembangunan.  Pertumbuhan ekonomi merupakan alat yang penting, namun bukan satu satunya alat.  Dengan kata lain,   pertumbuhan ekonomi  bukan pengukur tujuan pembangunan. Read the rest of this entry »

Filed under: economy, Bahasa Indonesia, poverty, statistics , , , , , , , , , ,

Indonesia Harus Berani Ubah Paradigma Pertumbuhan

Bisnis  Indonesia, 13  Desember  2011

 

 

DEPOK: Publik di  Indonesia harus mempelopori revolusi paradigma pembangunan di dunia, dengan tidak lagi menjadikan pertumbuhan ekonomi sebagai tujuan, melainkan alat untuk menciptakan tata kelola yang baik, kesejahteraan masyarakat, dan kelestarian lingkungan.
Hal tersebut diungkapkan Senior Research Fellow Institute of Southeast Studies Singapore Aris Ananta dalam diskusi ekonomi yang diselenggarakan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, hari ini.
“Saya harap Indonesia berani mengubah paradigma pembangunan ekonomi. Bukan revolusi turun ke jalan, lewat facebook  atau twitter,  tapi revolusi pemikiran,” ujar Aris.
Dia mengkritik pola pengajaran ilmu ekonomi di seluruh dunia yang selalu menjadikan pertumbuhan ekonomi sebagai indikator utama keberhasilan pembangunan suatu negara. Sementara itu asumsi lainnya, seperti kemiskinan, pengangguran, good governance, dan kelestarian lingkungan hanya dijadikan bagian dari pada pembentukan PDB.
Baca selengkapnya  Indonesian Harus Berani Ubah Paradigma Pertumbuhan

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, poverty, statistics , , , , , , , , , , , , ,

Paradigma Ekonomi Cenderung Untungkan Pemodal

Jurnal Nasional, 14  Desember  2011

 

Pembangunan perekonomian Indonesia semesti lebih menitik beratkan keberpihakan kepada masyarakat miskin. Kesimpulan ini dirangkum dalam konferensi pers Indikator Ekonomi Baru yang berlangsung di Universitas Indonesia.

Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Aris Ananta menilai paradigma ekonomi di Indonesia cenderung menguntungkan pemodal dan tidak memihak masyarakat miskin. “Tujuan pembangunan Indonesia adalah membangun manusia yang sejahtera. Tetapi yang terjadi sekarang malah sebaliknya,” ucapnya dalam konferensi pers Indikator Ekonomi Baru di Depok, Selasa (13/12).

Menurut dia, dalam paradigma ekonomi sekarang ini, pertumbuhan ekonomi dianggap sebagai tujuan pembangunan. Padahal indikator pertumbuhan ekonomi hanya satu alat untuk mencapai pembangunan manusia yang sejahtera.

 

Baca selengkapnya   Paradigma Ekonomi Cenderung Untungkan Pemodal

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, poverty, statistics , , , , ,



This site contains the writings of Aris Ananta & Evi Nurvidya Arifin.

Aris Ananta is an economist demographer with a multi-disiplinary perspective. He first studied economics from University of Indonesia in 1973-1977. He received his Master in Socio-economic Statistics from George Washington University in 1978 and PhD in Population Economics from Duke University in 1983.

More about Aris Ananta...

Evi Nurvidya Arifin is a social statistician, majoring in demography, with an inter-disciplinary approach. She has been applying her statistical expertise beyond demography since she earned her Ph.D in Social Statistics from the University of Southampton, United Kingdom, in 2001. She obtained her Master in Population and Manpower Studies from University of Indonesia in 1995. She received her undergraduate degree in Public Nutrition from Bogor Institute of Agriculture in 1987.

Our research interest is the intersection of:



Categories

Archives

Visitors

  • 36,397

Authors

Our Publications

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 28 other followers

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 28 other followers